US – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memberikan pernyataan mengejutkan terkait dampak ekonomi dari perang melawan Iran yang tengah berlangsung.

Dalam rapat kabinet terbarunya, Trump menilai lonjakan harga minyak dunia maupun koreksi di bursa saham tidak seburuk perkiraan awalnya.

Ia optimistis bahwa upaya militer yang dilakukan saat ini akan membuahkan hasil positif dan meyakini kondisi ekonomi yang terguncang akan segera pulih.

"Harga minyak tidak naik sebanyak yang saya kira, Scott (Menteri Keuangan AS Scott Bessent), jujur saja," ujar Trump dikutip dari CNBC, Jumat, 27 Maret 2026.

Trump bahkan memprediksi harga komoditas energi akan kembali turun ke level normal, bahkan berpotensi lebih rendah setelah konflik berakhir.

Namun, pernyataan optimistis sang Presiden tampak kontras dengan data di lapangan yang menunjukkan pasar energi sedang mengalami gejolak hebat.

Harga minyak mentah AS sempat mendekati angka US$ 100 per barel pada awal konflik. Secara kumulatif, harga minyak telah melonjak lebih dari 40 persen selama masa perang.

Kenaikan ini berdampak langsung pada masyarakat AS dengan naiknya harga bensin lebih dari US$ 1 per galon di stasiun pengisian bahan bakar.

Tak hanya di AS, bursa saham global termasuk Asia juga terkena imbas. Indeks S&P 500 dilaporkan turun 4,8 persen pada Maret, atau merosot 6,5 persen dari rekor tertinggi awal tahun ini.

Meski indikator ekonomi tersebut tertekan, Trump tetap teguh pada pendiriannya bahwa strategi yang ia ambil sudah berada di jalur yang benar.

"Prediksi saya selama ini tepat," klaim Trump, menekankan bahwa kerusakan ekonomi akan segera teratasi begitu permusuhan berakhir.

Di sisi lain, para ekonom Wall Street justru menyuarakan kekhawatiran yang berbeda. Dalam beberapa hari terakhir, para ahli meningkatkan prediksi kemungkinan terjadinya resesi dalam 12 bulan ke depan.

Para ekonom berpendapat, jika perang tidak segera berakhir, dampak inflasi akibat harga minyak yang tinggi akan menyebabkan kontraksi ekonomi yang serius.

Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar tetap waspada, menunggu apakah diplomasi yang dijanjikan Trump benar-benar mampu meredam ketegangan di Timur Tengah.